
Di terminal aku langsung naik bis jurusan bandung yang memang sudah ngetem menunggu penumpang dan sekitar pukul tujuh bis mulai jalan perlahan, perlahan seperti mengetahui hatiku yang gundah. Hatiku gelisah namun pak sopir seperti bermalas-malasan menginjak gas sedang dalam hatiku menggerutu ingin cepat sampai ingin cepat mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.
Selepas kota Tegal akhirnya bis berlari kencang, sedikit mengobati kegelisahanku, sengaja aku tak memberi tahu kalau aku akan ke Bandung menemui dia. Berkilo-kilo meter telah berlalu akhirnya sampai juga dibandung sekitar jam setengah tiga. Aku telpon dia namun dari nadanya dia seperti menyembunyikan sesuatu, akhirnya aku naik angkot menuju kostan dia di daerah Dago sampai disana aku berhenti di depan masjid karena kostan dia memang berada dibelakang masjid aku berjalan kearah masjid namun belum sempat masuk masjid aku lihat adiknya berjalan sama ke arah masjid juga aku tidak menyangka ternyata keluarganya sedang ada disini. Keluarga dia memang tak menyetujui hubungan aku dengan dia. Melihat kedatanganku adiknyakembali lagi ke kost rupanya dia ngasih tahu ke mamanya bahwa aku ada juga di bandung. Aku telpon dia tapi sepertinya dia menyembunyikan sesuatu setelah aku desak-desak akhirnya aku tau bahwa mamanya kebandung dengan membawa calon suami dia, suami untuk dia yang dipaksakan untuk menjauhkannya denganku. Akupun bertengkar dengan dia ternyata ini sumber dari keanehannya selama ini sumber dari keganjilan yang kurasakan. Yang lebih menyakitkan lagi aku lihat mereka pulang dari bandung